Selasa, 15 Mei 2012

Sejarah Kecamatan Jasinga

Dalam situasi umum  dan kehidupan masyarakat Jasinga dari tahun 1945-1949, wilayah Jasinga adalah merupakan basis perjuangan yang menjadi front dan benteng pertahanan bagi daerah keresidenan Banten dalam mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945 kemerdekaan Republik Indonesia.
Wilayah Jasinga selain menjadi pertahanan segi militer yang mendapat dukungan penuh dari masyarakat, juga sebagai tempat peristirahatan pejuang setelah melakukan pertempuran, serta sebagai tempat dapur umum. Dengan sendirinya pula Jasinga telah menjadi daerah dan area pertempuran pertempuran dan perlawanan terhadap penjajah Netherland Indies Civil Administration (NICA) Belanda, yang akibatnya banyak melahirkan pahlawan-pahlawan dan syuhada yang gugur dalam pengabdian baktinya bagi agama, nusa dan bangsa.

Wilayah Jasinga adalah garis demorkasi pertahanan, selain dijadikan tempat dan markas pasukan tentara kita sejak BKR/TRI/TNI dan gerilyawan-gerilyawan yang akan menuju ke front, juga menjadi basis pemerintahan Kabupaten RI, sekaligus menjadi benteng pertahanan bagi daerah keresidenan Banten, yang baru dapat diinjak musuh setelah terjadinya aksi militer ke II (dua). Pada tanggal 19 Desember 1948. disamping itu pula secara politis dan taktis bahwa wilayah Jasinga dijadikan pula basis pertandingan, sebagai pemerintah (darurat) RI Kabupaten Bogor.

Jasinga merupakan wilayah kewedanaan yang dipimpin oleh seorang wedanan dan meliputi 3 (tiga) Kecamatan yaitu Kecamatan Jasinga, Kecamatan Parungpanjang dan Kecamatan Cigudeg (daerah eks tuan tanah). Masing-masing Kecamatan dipimpin oleh seorang assisten wedana (Camat) dengan batas-batas meliputi :
-          Timur            : berbatasan dengan kewedanaan Leuwiliang
-          Utara            : berbatasan dengan Kabupaten Tangerang
-          Barat            : berbatasan dengan Kabupaten Lebak
-          Selatan         : berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi

Wilayah Jasinga adalah darah pertanian dan perkebunan karena sebagian besar masyarakatnya menggantungkn diri pada sektor ini, jenis tanaman yang dibudi dayakan adalah karet (desa Setu, Pangradin, Sipak, Koleang, Curug dan desa Cikopomayak). Kelapa sawit (desa Cimaraca) dan teh (desa Pasirmadang dan Cileuksa). Pada awalnya sebagian tanah (cucurah) digarap sendiri oleh sebagian rakyat dengan hasil yang jauh dari memuaskan, sehingga kemudian banyak rakyat yang beralih menjadi buruh/kuli perkebunan dengan upah yang sangat rendah, sekitar 0,25 yen (25 sen) dan para buruh ini dipaksa bekerja dari jam 06.00 s/d 17.00 sore.

Sarana pendidikan sangat begitu kurang pada saat itu hanya 2 (dua) Sekolah Rakyat (SR) I daerah Jasinga ini yaitu desa Jasinga (Sekarang desa Pamagersari) dengan lama pendidikan 5 tahun dan di desa Setu dengan lama pendidikan 3 tahun. Kehidupan masyarakat di daerah Jasinga adalah sangat sederhana, dengan agama Islam sebagai agama yang paling banyak dianut, dan pada umumnya mereka cukup taat melaksanakan ajaran agamanya itu, hal ini dikarenakan sudah banyak tersebarnya para alim ulama, pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah pendidikan agama disetiap penjuru desa.

Pada saat itu (penjajahan Jepang) rakyat Jasinga dibuat kelaparan, yang setiap harinya tidak kurang dari 2-3 orang yang mati kelaparan, mayat-mayat manusia banyak bergelimpangan dibawah pohon, di lorong-lorong dan pinggir jalan, semua ini dikarenakan hasil panen banyak yang gagal ditambah lagi hasil panen tersebut harus disetorkan ke Jepang. Dan lebih di perparah lagi ketika Jepang menerapkan sistem kerja paksa (romusha) dalam rangka pembuatan lapangan terbang di Rumpin dan pembuatan jalan Raya di Bayah Banten, ada sekitar 10 orang rakyat Jasinga yang meninggal karena kelaparan dan diperlakukan buruk oleh tentara Jepang. Pada sat itu rakyat dipaksa untuk ikut bekerja, dimana mereka (rakyat) diharuskan mendaftar diri di komicok (ketua RT) setiap desa. Base camp Jepang sendiri pada waktu itu berada di Gedong Sawah dengan kantor jumsa (polisi Jepang) berada di tugu (sekarang Polsek Jasinga. Pada saat itu rakyat Jasinga dibuat sengsara dan harus bekerja paksa demi kepentingan Jepang. Kemudian pada tanggal 15 Agustus 1945 pemerintah Jepang yang diwakili oleh Kasiar Herdito mengumumkan penyerahan Jepang tanpa syarat menyerah kepada sekutu, dengan demikian berakhirlah kekejaman penjajahan Jepang di Indonesia termasuk di Jasinga.

Selanjutnya tanggal 17 Agustus 1945 detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Jakarta digaungkan proklamasi republik Indonesia (RI) dan bergema ke seluruh nusantara persada Indonesia dengan sambuatan hangat dari seluruh lapisan masyarakat dengan rasa harus dan gembira, salah satunya adalah daerah Jasinga. Pada sat itu seluruh pemuda dan seluruh lapisan masyarakat Jasinga bersama-sama menurunkan bendera Jepang di Gedong Sawah  (base camp Jepang) yang dikenal dengan Jasinga estate yang dijaga oleh seorang Jepang, penuruan bendera Jepang tersebut dipimpin oleh Djaenal Alim dan dibantu kawan-kawannya seperti E. Sugandi, Nurali, Satia Wihana, Sajuki dan Owen. Pada saat itu dan sekitar detik-detik proklamasi tepatnya hari Jum’at jam 10.00 pagi semua rakyat Jasinga sudah berkumpul di depan kantor juansa (kantor polisi Jepang) atau dikenal dengan bipak (berbentuk panggung) pada saat itu rakyat mendengarkan berita proklamasi hanya dengan sebuah radio, konon sebagai salah satu-satunya radio yang ada di daerah Jasinga pada waktu itu, ketika Soekarno-Hatta selesai membacakan naskah proklamasinya, maka serentak semua rakyat Jasinga berteriak merdeka-merdeka dan mengumandangkan Allohu Akbar…

Selain lewat informasi dari radio, sebagian masyarakat Jasinga mengetahui berita proklamasi salah satunya dari surat kabar, seperti koran Asia Timur dan Soeara Asia. “salam merdeka” menjadi salam nasional yang wajib diucapkan jika seseorang bertemu dengan seseorang seperjuangannya. Tidak lama  setelah berita proklamasi tersebut, Bupati Bogor yang pertama R. Ipik Gandamana memerintahkan wedana Jasinga K.H. Abdul Muhyi untuk segera membentu membentuk Komite Nasional (KNI) distrik Jasinga disertai penjelasan-penjelasan mengenai perihal kemerdekaan Republik Indonesia. Maka pada hari minggu tanggal 19 Agustus 1945, bertempat di Gedong Sawah didalam rapat pertama pembentukan KNI yang dihadiri sebanyak 35 orang yang terdiri dari tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan alim ulama. Rapat tersebut menyepakati kepengurusan KNI dengan susunan sebagai berikut :
Ketua                                      : Asep Mudjitaba
Wakil Ketua                            : M. Sukanta
Sekretaris                                : Moh. Jamir
Bendahara                               : R. Natadiredja
Keamanan                               : H. Mardana Moh. Hasan
Kepolisian                               : 1. K.H. Hasbullah
                                                  2. K.H. Jamsari
Penerangan                              : 1. E.M. Kafifi
                                                  2. R.E. Moh Romly Husyi
                                                  3. A. Fatah Marda’i
Kemakmuran                           : 1. R. Suwanta
                                                  2. R. Iton Sastranegara
                                                  3. Djaja Satria
Ketahanan Rakyat/Sabilillah     : 1. Moh. Sidik
                                                  2. Moh. Ahyad
                                                  3. K. Asmawi
                                                  4. K.H. Nahrowi
                                                  5. K.H. Hasan Basri
Kepemudaan                            : 1. M. Suhanda
                                                  2. M. Supena
                                                  3. Muniran
                                                  4. Hari Suhanda
                                                  5. Djamal Alim

Dalam rapat KNI dan telah terbentuknya kepengurusan KNI, KNI berhasil melantik K.H. Abdul Muhyi (Embah Muhyi) dari Parungsapi menjadi wedana Jasinga pertama dan Raden Kamaludin menjadi Camat Jasinga, serta H. Mardana Moh. Hasan menjadi kepala kepolisian dan koordinator Badan Keamanan Rakyat (BKR), serta mualim Abdurahman diangkat menjadi Camat Parungpanjang.

Kepala BKR H. Muhamad Hasan disamping menjadi keamanan dan ketertiban di daerah, juga mengkoordinir pasukan-pasukan kepolisian, Hisbullah, Sabilillah dan pemudanya. Dengan peralatan yang dipunyai kepolisian dan swadaya masyarakat pimpinan BKR mengatur dan menghimpun para alim ulama/kiayi yang berada di daerah-daerah untuk memimpin pasukan-pasukan dalam penyerbuan musuh ke kota Bogor dan sekitarnya.  Para pemuda melakukan gerakan penurunan bendera Dai Nippon dan menahan serta mengusir Jepang yang menguasai perkebunan Jasinga, dan sebagian pemuda memenuhi panggilan masuk kepolisian RI dan menggabungkan diri dengan pasukan Hisbullah Leuwiliang dan ada sebagian masuk kader militer di Tangerang pimpinan Daan Mogot/Sigit dan sebagian lagi mengabungkan dengan BKR /TKR Batalyon III pimpinan H. Dasuki Bakri yang terdiri dari mantan tentara pembela tanah air (PETA) dan Heiho mengabungkan diri dengan BKR. Dari semenjak tahun 1945-1949 masyarakat Jasinga turut serta memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang.

0 komentar

Poskan Komentar