Friday, 13 April 2012

Gagal Nikah, Hilang Harga Diri

Baru saja seorang sahabat, perempuan paruh baya, berikirim inbox yang mengisahkan kegalauannya karena diancam dan diperas oleh sahabat mayanya dari luar negeri (cowok). Rasanya, secuil isi buku Ketika Tuhan Ditidurkan (episode Jebakan Dunia Maya), perlu kuapload sebagai catatan, agar semua sahabatku bisa terhindar dari kasus seperti ini. Agar sahabt2ku hati2 dan waspada......

Gagal Nikah, Hilang Harga Diri
Cinta tidak pernah meminta, dia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah mendendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta, di sana ada kehidupan, sedangkan kebencian membawa kepada kemusnahan. - Mahatma Gandhi

Ini kisah seorang gadis 30 tahunan bernama C. C lumayan cantik dengan hidung mancung, kulit kuning langsat, tinggi semampai, dan body aduhai. Selama hidup dia tidak pernah pacaran. Bukan berarti tidak ada yang mau sama dia. Namun, karena semua cowok lokal yang mencoba mendekati dan menyatakan cinta, selalu dia tolak! Mengapa? Dia terobsesi memiliki suami bule alias westernman.

Maka, pada era internet seperti sekarang ini, ketika dunia “disatukan” oleh teknologi, C tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dalam berbagai situs jejaring sosial, dia memasang profilnya dengan kolom interest: westernman only. Dari sinilah semuanya berawal.

C pun banyak memiliki teman maya, cowok Eropa, Amerika, dan belahan bumi lain yang berkulit bule. Ini tidak mengherankan, karena C pandai bahasa asing dan luwes dalam berteman.

Dari ribuan sahabat mayanya, ada seorang cowok berumur 29 tahunan asal United Kingdom yang menggoda hatinya. Dari foto-foto yang dipajang di situs jejaring, cowok Inggris ini memang tampan. Maka, tanpa malu dan ragu, dalam berbagai kesempatan C dengan berbagai cara melakukan pedekate. Gayung pun tersambut. Dari inbox, email, yahoo messenger (YM), nomor handphone mereka saling bertukar. Singkat cerita, mereka pacaran jarak jauh.

Bulan-bulan pertama hubungan mereka wajar-wajar saja. Say hallo dan ngobrol di yahoo messenger yang paling sering mereka lakukan. Setiap kesempatan digunakan C untuk terus “berdekatan” dengan kekasihnya itu. Saat kerja di kantor, dia selalu menyempatkan diri online setelah terlebih dulu berkirim SMS. Malam hari pun demikian. Mereka pun saling menggunakan kamera webcam, sehingga seolah-olah sedang bertatap muka secara langsung.

Setelah berjalan tiga bulan, si cowok mulai “nakal” dan menggoda C untuk membuka webcam dengan memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya. C yang mabok kepayang pun tergoda, hingga mereka terlibat sexonline melalui webcam alias berhubungan seks secara online menggunakan webcam.

Hampir setiap malam C ber-sexcam-ria dengan kekasihnya, sebelum akhirnya dia tertidur pulas dengan badan lunglai dan bibir tersenyum. Kata-kata “I love you darling”, “I miss u”, “You are very-very special”, hingga “Ohh my God…. You are very hot, Babby” pun berhamburan setiap saat. Dan, C sangat menikmati keindahan cintanya. Dia tidak pernah berpikir negatif tentang kemungkinan akibat yang bisa ditimbulkan.

Hingga, suatu saat cowok bulenya menghilang tanpa sebab. Beberapa hari tanpa kabar. Di YM tidak online, die-mail tak menjawab, disms tak membalas, dan ditelepon pun tulalit. Tentu saja C kalang-kabut, gelisah tak menentu.

Beberapa hari kemudian, inbox Facebook dan e-mail C mendapat kiriman dengan kata-kata, “Darling, tolong transfer via moneygram/western union ke rekeningku no. xxxxxxx sebesar GDP 10.000, jika tidak viedocam kamu yang sedang merintih-rintih akan aku sebar-luaskan, baik melalui Facebook, Youtube, maupun media internet lainnya. Karena aku sudah merekam semuanya. Aku beri kamu waktu satu minggu dan aku sangat serius!” Hanya itu!



oleh Moelyonov Visimedia

0 comments

Post a Comment